Apakah Musisi Harus Menguasai Mixing/Mastering?

Pesatnya teknologi dalam dunia Recording saat ini, membuat proses perekaman musik saat ini bisa dilakukan hanya di sebuah kamar. Hal ini jelas merupakan kemudahan bagi para musisi untuk menuangkan ide-idenya tanpa batas, menyimpannya, lantas memperdengarkannya kepada orang lain. Mengasikkan bukan?

Namun tanpa disadari, hal ini melahirkan sebuah fenomena baru, yaitu bergesernya posisi seorang musisi menjadi sound engineer. Ini menarik bagi saya, sehingga saya memutuskan untuk menulisnya disini. Dan ini adalah opini saya pribadi, tidak mewakili band, kelompok, ataupun komunitas tertentu.

Begitu sering saya mendengar orang (musisi) bertanya langsung kepada saya, ataupun mereka sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya, dan kurang lebih pertanyaannya seperti ini:

  • Ajarin saya mixing dong?
  • Plugin untuk reverb yang bagus apa?
  • Mendingan pake software anu, atau anu?
  • Mastering suka pakai apa?
  • Dan lain sebagainya.

Saya sangat senang melihat hal ini, karena antusias para musisi ke dalam dunia Audio Recording begitu besar. Namun ketika hampir kebanyakan musisi memperbincangkan hal tersebut dan mulai menggeser prioritasnya (tidak lagi pada porsi musisi, melainkan sudah kepada porsi sound engineer), menurut saya ada poin-poin yang harus diingatkan. Catat: ini sama sekali bukan melarang melainkan hanya opini pribadi (dan ini berdasarkan pertimbangan tertentu).

Seorang musisi tentunya job description-nya adalah bermain musik (entah itu berlatih, tampil, ataupun rekaman). Dan seorang sound engineer job description-nya adalah pada mengurus hal-hal yang berkaitan dengan audio (record, editing, mixing, mastering, dll). Ini adalah dua profesi yang berbeda dalam satu dunia.

Dari fenomena baru seperti yang saya ceritakan diatas, pertanyaannya adalah, “Apakah musisi harus bisa mixing dan mastering?”. Maka jawaban saya: TIDAK. Mixing dan mastering adalah tugas seorang sound engineer, bukan tugas musisi.

Tapi banyak kok musisi yang dia melakukan mixing mastering sendiri? Betul, itu adalah orang-orang yang multi-talent dan ber-qualified. Idealnya, seperti itu, seperti membangun rumah dimana Anda sebelumnya menggambarkan dalam pikiran Anda, lantas Anda menentukan letak, denah, pondasi, membangun dan finishing rumah tersebut oleh Anda sendiri. Hasilnya tentu akan tepat sesuai dengan apa yang ada di pikiran Anda. Sama persis, dalam dunia musik pun, jika Anda idealis, Anda memiliki sebuah musik dalam pikiran Anda, lantas Anda tulis, Anda rekam, Anda mixing, mungkin hasilnya akan sesuai dengan yang dimaksud.

Namun, cerita diatas baik itu membangun rumah ataupun membuat musik, semuanya bisa terealisasi dengan baik apabila disertai ilmunya.

“Lantas, apa maksudnya tulisan ini? Kok saya jadi bingung?”. Hehe, maksud saya, jika Anda saat ini sedang belajar musik, ataupun sedang memiliki group band yang ingin membuat demo, saya mengingatkan bahwa tidak perlu Anda menguasai cara mixing dan mastering, karena tidaklah wajib menguasai itu. Jangan sampai orang-orang yang mempelajari musik memiliki anggapan bahwa keahlian mixing dan mastering adalah sebuah keharusan. Tidak, anggapan tersebut kurang tepat. Namun jika Anda menguasainya, tentunya itu lebih bagus.

Mungkin yang tepat adalah musisi harus memahami audio (sesuai dengan instrumen yang dikuasainya), dan mampu men-setting instrumentnya untuk menghasilkan sound yang bagus untuk kepentingan performing maupun recording. Ini yang lebih tepat menurut saya. Dalam kasus home recording, Anda mengetahui basic mixing saja sudah cukup. Atau jika Anda bisa mixing asal enak didengar saja untuk bahan review Anda, itu sudah lebih dari cukup.

So, do your best! Anda punya skill dalam keduanya, make your imagination come true! Tapi jika Anda tidak menguasai sound engineering? Mainkan musik yang terbaik yang bisa Anda mainkan, rekam, lantas buatlah kopi dan beristirahat, kemudian cari cara berkomunikasi dengan sound engineer, percayakan sisanya pada sang sound engineer.

 

Semoga bermanfaat.