Beritahu Saya Ketika Hidup Anda Sudah Hancur

Saya menonton sebuah film. Di dalam film itu diceritakan seorang wanita pintar, sederhana, dan bercita-cita untuk menjadi sebuah penulis di salah satu media cetak nasional. Namun untuk meniti karirnya, ia terpaksa melamar ke sebuah majalah fashion yang sangat terkenal di negara tersebut, bahkan di dunia.

Ternyata, dengan bekerja pada majalah tersebut, membuat si wanita harus betul-betul mencurahkan semua tenaganya untuk banyak hal. Termasuk untuk mencarikan naskah kelanjutan Harry Potters yang belum terbit, hanya untuk anak sang pemilik majalah tersebut. Pilihannya, datang dengan membawa naskah cerita tersebut, atau tidak usah datang kembali ke kantor majalah tersebut.

Si wanita berhasil memenuhi semuanya. Termasuk ia mulai merubah penampilannya yang tadinya sederhana menjadi glamour. Mengikuti acara-acara eksklusif yang hanya dihadiri orang-orang tertentu. Sang ayah menegurnya, karena ternyata ia melihat bagaimana pekerjaannya betul-betul menyita waktu wanita tersebut. Demikian halnya dengan kekasihnya. Namun sang wanita tetap teguh dengan pendiriannya, dengan alasan “demi karir dan masa depan”.

Tidak jarang pada saat sedang berkumpul dengan teman atau kekasihnya, ketika sang bos-nya menelpon, maka dia mau tidak mau harus pergi. Dimanapun dan kapanpun, jika handphonenya berbunyi, maka itu berarti “pergi”. Hingga ia melewatkan ulang tahun kekasihnya yang sudah direncanakan sedemikian rupa. Akhirnya, perubahan tersebut membuat sang wanita bertengkar hebat, dan sang kekasih memutuskan hubungan dengannya.

Keesokan harinya, dia tidak fokus dalam bekerja karena kejadian dengan mantan kekasihnya tersebut. Lantas terjadilah sebuah dialog yang sangat menarik bagi saya antara sang wanita dan rekan kerjanya (saya terjemahkan dengan bahasa baku):

*A = Rekan kerja, B= Wanita tersebut.

A: “Tolong, jangan buat saya kesal

B: “Saya mohon maaf. Saya sedang…”

A: “Kenapa?“

B: “Saya sedang ada masalah pribadi.”

A: (Tetap melakukan aktifitasnya tanpa melihat wajah si wanita, seolah itu adalah hal yang sangat biasa ia dengar) “Owh, selamat datang…“

B: (Bingung) “Maksudnya?”

A: “Semua orang disini bekerja keras. Dan ketika kamu bekerja, maka akan ada kehidupan pribadi yang kamu korbankan. Itu adalah pilihan.“

B: (Termenung)

A: (Membereskan buku, lantas berlalu sambil berkata) “Oya, nanti bilang ke saya kalo kehidupan kamu sudah hancur…“

B: (Termenung)

 

Ada sebuah hal yang menarik dari cerita film tersebut, dan sepenggal kalimat itulah yang sangat membekas pada ingatan saya, dan itu bukanlah scene utama dari film tersebut. “Beritahu saya jika hidupmu sudah hancur” seperti merupakan sebuah hal yang harus dibayar di dalam dunia kerja keras mereka untuk pencapaian sebuah karir.

Tidak jarang cerita diatas terjadi pada orang-orang di sekeliling kita. Begitu kerasnya orang-orang bekerja, hingga mereka mengabaikan orang-orang yang mencintai mereka, bahkan orang yang dicintainya. Padahal alasan mereka bekerja keras adalah untuk orang-orang yang dicintainya. Begitu banyak orang yang bekerja keras demi keluarganya hingga pada saat hari raya Idul Fitri mereka terpaksa tidak bisa berada di tengah-tengah keluarganya karena pekerjaannya. Begitu rajinnya orang bekerja untuk membeli sebuah rumah yang ia gunakan hanya untuk numpang tidur saja tanpa sempat menikmati kesehariannya di rumah tersebut. Begitu banyak orang yang bekerja keras untuk membiayai sekolah anaknya namun tidak bisa hadir pada saat rapat orang tua murid.

Jujur saja saya bingung, mengabaikan orang-orang yang dicintainya demi orang-orang yang dicintainya? Kehidupan pribadinya dikorbankan demi orang-orang yang berada dalam kehidupan pribadinya.

Mudah-mudahan, tulisan ini bisa menjadi wacana untuk kita semua. Bekerja keras adalah sebuah keharusan karena itu menyangkut hidup kita. Namun jangan sampai itu membuat kita lupa, bahwa kehidupan kita tidak hanya diisi oleh diri kita sendiri. Ada keluarga yang menanti kita pulang dengan selamat. Ada istri yang menunggu kita dan sudah memasak makanan untuk makan malam kita. Ada anak yang menunggu kita datang untuk sekedar bersenda gurau dan mendengarkan dongeng. Merekalah kehidupan kita yang sebenarnya.

Oya, di akhir cerita si wanita keluar dari perusahaan majalah tersebut, melemparkan handphonenya ke sebuah kolam, dan akhirnya bekerja di sebuah media cetak meninggalkan semua kemewahan yang ia dapatkan sebelumnya, namun mendapatkan kembali orang-orang yang dicintainya. Sayangnya hidup ini bukanlah sebuah film yang selalu bisa kita atur agar happy ending pada akhirnya. Mudah-mudahan tidak ada yang memberitahu saya bahwa hidupnya sudah hancur.

 

Semoga bermanfaat.