Don’t Judge Book By Its Cover

“Don’t judge a book by its cover”. Ini adalah sebuah peribahasa yang sudah tidak asing lagi kita dengar. Atau dalam bahasa Indonesianya “Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya”. Sejatinya memang begitu. Cara terbaik untuk mengetahui sebuah isi buku tidak lain adalah dengan membaca seluruh isinya. Saya setuju dengan pendapat ini. Seiring waktu, entah karena jaman yang semakin amburadul atau karena memang manusia semakin ingin bebas, saya semakin sering mendengar peribahasa ini. Akhirnya saya tergelitik untuk memperhatikan lebih dalam kenapa kalimat ini menjadi lebih sering muncul belakangan ini. Dan lewat tulisan ini saya ingin berbagi sedikit apa yang terkait dengan hal ini berdasarkan pemikiran saya.   # Tersinggung Dengan Penilaian Orang Lain Terhadap Dirinya Orang yang melontarkan kalimat ini adalah orang yang mempertahankan diri atas penilaian orang lain terhadap dirinya. Peribahasa ini digunakan sebagai pengganti kalimat, “Saya tidak seperti yang kamu kira”. # Sedang Berseteru Dengan Orang Lain Biasanya perseteruan akan menjadi kerucut yang kemudian akan menjadi lahan untuk saling menyerang secara personal. Peribahasa ini adalah tameng dalam sebuah perseteruan. # Masa Bodoh dan Tidak Mau Peduli Ada lagi orang yang memang masa bodoh dengan apa yang dikemukakan orang lain. Dia berpedoman pada prinsip, “Yang penting saya sebetulnya anu…”. # Menutupi Keburukan Ini yang bagi saya sangat memprihatinkan. Peribahasa ini digunakan memang untuk menutupi keburukannya yang memang dia sendiri sadari. Namun dia menggunakan peribahasa ini untuk memberikan klaim bahwa dia tidaklah seperti itu.   Mungkin kira-kira seperti itulah alasan-alasan orang hingga harus mengucapkan peribahasa tersebut. Nah, karena ternyata alasan-alasan yang digunakan selalu berkaitan dengan orang lain, saya ingin mengajak Anda (yang memang keranjingan mengucapkan kalimat tersebut) untuk sedikit membuka mata...

Kisah Wanita Cantik Ingin Dinikahi Pria Kaya

Di salah satu halaman internet saya pernah membaca sebuah tulisan. Entah itu benar atau tidak, namun yang pasti ini bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi kita. Saya paste dibawah ini: Kisah ini merupakan terjemahan bebas dari majalah Fortune yang berjudul: “Young and pretty lady wishes to marry a rich guy”. Seorang wanita memposting sebuah pertanyaan melalui sebuah forum terkenal dengan bertanya: ”Apakah yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?” Saya akan jujur dengan apa yang saya katakan. Usia saya 25 tahun. Saya sangat cantik, bergaya dan memiliki selera yang tinggi. Saya berharap menikah dengan pria kaya dengan penghasilan pertahun $500 ribu (+/-Rp.5,5M) atau lebih. Anda mungkin akan berkata kalau saya termasuk perempuan materialistis, tapi kelompok berpenghasilan sampai dengan $ 1 juta pun masih termasuk kelas menengah di New York . Permintaan saya tidak setinggi itu. Adakah pria di forum ini yang berpenghasilan $ 500 ribu per tahun? Apakah Anda semua telah menikah? Saya ingin bertanya apa yang harus aku lakukan untuk dapat menikah dengan orang2 seperti Anda? Di antara pria yang telah berpacaran denganku, yang terkaya hanya berpenghasilan $ 250 ribu dan kelihatannya ini batas tertinggi yang pernah saya capai. Jika seseorang ingin pindah ke perumahan mewah di wilayah barat New York City Garden , penghasilan $250 ribu tentu tidak cukup. Beberapa hal yang ingin saya tanyakan: Dimanakah kebanyakan para pria kaya bertemu & berkumpul? Mohon nama dan alamat bar, restauran dan gym yang sering dikunjungi. Rentang usia berapakah yang dapat memenuhi kriteria saya? Kenapa wajah istri-istri orang kaya hanya terkesan biasa-biasa saja? Saya telah bertemu dengan beberapa gadis yang tidak cantik dan kurang menarik, tapi mereka...