Belajar Memberi Dengan Ikhlas

Saya terbiasa membawa sebuah tas kecil jika bepergian kemana-mana. Tas kecil ini penting bagi saya, karena saya selalu menyimpan semua barang saya di dalamnya, handphone, dompet, kartu nama, buku kecil, dan benda-benda lain yang mungkin menurut Anda kurang begitu penting, namun sangat bermanfaat jika dibawa kemana-mana. Suatu saat, tas saya sobek. Dan saya berpikir untuk membeli tas baru, meskipun tas tersebut belum terlalu lama saya beli. Namun ketika sekali lagi saya teliti, sebetulnya tas ini bisa dijahit. Karena saya berpikir saya tidak memiliki keahlian menjahit, maka saya putuskan untuk datang ke ahlinya, yaitu penjahit. Ketika datang ke tempat penjahit, ia nampak sedang sibuk menjahit di ruangan kerjanya yang tidak besar. Begitu saya datang, dia mempersilahkan saya masuk dengan ramah. “Sibuk Pak?”, tanya saya. “Iya nih, lagi banyak kerjaan. Ada yang bisa saya bantu?”, katanya sambil melepaskan baju yang sedang ia jahit. Saya pun menceritakan maksud saya, dan ia langsung menjahitkan tas saya yang robek tersebut. Kurang dari 5 menit, tas saya sudah kembali bagus seperti semula. “Jadi berapa Pak?”, tanya saya ketika semuanya sudah selesai. “Berapa? Tidak usah. Cuma gitu aja kok. Sudah, tidak usah.”, ucapnya sambil kembali memasangkan kembali baju yang sempat tertunda jahitannya karena kedatangan saya. “Pak, jangan begitu. Berapa?”, kembali saya bertanya. Dia tetap menjawab dengan jawaban yang sama, namun saya terus memaksa. “Ya sudah, dua ribu saja.”, akhirnya Bapak itu berkata (mungkin karena saya terus-terusan memaksa). Dua ribu? Uang yang sangat kecil, lebih murah dari harga minuman botol yang kita beli, lebih kecil dari uang tips yang selalu kita berikan kepada para pelayan, lebih kecil dibandingkan dengan uang parkir kita di Mall namun sudah membuat...

Inilah Alasan Kenapa Orang Lain Lebih Sukses

Joko dan Edi sama-sama diterima di sebuah perusahaan sebagai salesman. Mereka berdua bekerja keras. 1 tahun kemudian bos Chandra mengangkat Edi menjadi Sales Supervisor sedangkan Joko tetap saja menjadi Salesman. Suatu hari Joko tidak tahan lagi dan mengajukan pengunduran dirinya kepada bos Chandra. Alasan Joko perusahaan ini tidak memperhatikan orang yang bekerja keras, hanya orang yang pandai menjilat bos saja yang bisa naik jabatan. Bos Chandra tahu bahwa Joko pekerja keras, tetapi untuk menyadarkan Joko apa bedanya dia dengan Edi maka ia memberikan satu tugas kepada Joko. Ia meminta Joko untuk menemukan seorang pedagang semangka di pasar dekat kantor. Saat Joko kembali, bos Chandra bertanya: “Sudah kau temukan, Jok?”, “Sudah pak” jawab Joko. “Berapa harga semangkanya?” tanya Bos Chandra. Joko pergi ke pasar lagi untuk menanyakan harga semangka lalu kembali menghadap bos Chandra dan berkata: “Rp 1.000,-/kg pak.” Bos Chandra berkata kepada Joko bahwa sekarang dia akan memberi perintah yang sama kepada Edi. Edi ke pasar dan setelah kembali menghadap ke bos Chandra.Edi lapor kepada bos Chandra: “Di pasar hanya ada 1 pedagang semangka, harga semangka Rp 1.000,-/kg, jika membeli 100 kg hanya Rp 800,-/kg nya,- ia mempunyai stok 324 biji, yang 32 dipajang di counternya. Semangka didatangkan dari Indramayu 2 hari yang lalu, warnan buahya hijau dan isinya merah jingga, kualitasnya bagus.” Joko sangat terkesan dengan laporan Edi dan memutuskan untuk tidak jadi mengundurkan diri, tetapi akan belajar lebih banyak dari Edi. Bekerja lebih keras saja tidak cukup. Seorang yang lebih sukses meneliti lebih banyak, Berpikir lebih banyak dan Mengerti lebih mendalam. Untuk alasan yang sama seorang yang lebih sukses melihat beberapa tahun ke depan sedangkan seseorang lainnya...

Akibat Suka Berbohong

Disebuah desa, ada seseorang yang sangat gemar sekali membuat cerita bohong. Misalnya dia berkata pada tetangganya bahwa pak RT-nya meninggal dunia. Seluruh warga pun berbondong-bondong ke rumah pak RT. Namun warga terkejut ketika mendapati pak RT masih sehat bugar. Ternyata semua warga sudah dikerjai orang tersebut. Lantas dia pernah membuat heboh warganya dengan membuat berita akan ada bom. Semua warga panik, namun ternyata semuanya bohong. Akhirnya warga pun menjadi tidak ada yang mempercayai ucapannya. Suatu ketika, anaknya menderita sakit keras. Karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka dia pun segera berlari ke tetangga sebelah rumahnya untuk meminta tolong. Namun tetangga yang sudah tahu dia suka berbohong, berpikir itu hanyalah cerita bohong seperti biasanya dan enggan menolongnya. Satu rumah, dua rumah, hingga seluruh tetangga diminta tolong olehnya, namun tak ada satupun yang menolongnya karena semuanya sudah jera dibohongi olehnya. Dengan putus asa, dia segera kembali ke rumahnya untuk merawat anaknya. Namun anaknya ternyata telah meninggal dunia. Dari cerita tersebut, apa yang bisa kita ambil? Kepercayaan dan kejujuran. Ternyata kepercayaan dan kejujuran berada diantara hidup dan mati. Sehebat itukah? Ya! Kepercayaan dan kejujuran adalah harta kita di dunia ini yang tidak ternilai dan tidak bisa dinilai dengan uang. Kepercayaan dan kejujuran adalah hal yang paling dicari orang di dunia ini. Bahkan, sebuah komplotan penipu pun akan mencari orang yang paling jujur untuk diangkat sebagai kepala kelompoknya. Namun sayang sekali, tidak sedikit orang yang menyia-nyiakan kepercayaan yang orang berikan kepadanya. Anda bisa membuat seribu alasan kenapa Anda tidak jujur pada orang lain, namun orang lain cukup membutuhkan satu hal untuk tidak percaya kepada Anda, “tidak ada satu orangpun yang ingin...

Beritahu Saya Ketika Hidup Anda Sudah Hancur

Saya menonton sebuah film. Di dalam film itu diceritakan seorang wanita pintar, sederhana, dan bercita-cita untuk menjadi sebuah penulis di salah satu media cetak nasional. Namun untuk meniti karirnya, ia terpaksa melamar ke sebuah majalah fashion yang sangat terkenal di negara tersebut, bahkan di dunia. Ternyata, dengan bekerja pada majalah tersebut, membuat si wanita harus betul-betul mencurahkan semua tenaganya untuk banyak hal. Termasuk untuk mencarikan naskah kelanjutan Harry Potters yang belum terbit, hanya untuk anak sang pemilik majalah tersebut. Pilihannya, datang dengan membawa naskah cerita tersebut, atau tidak usah datang kembali ke kantor majalah tersebut. Si wanita berhasil memenuhi semuanya. Termasuk ia mulai merubah penampilannya yang tadinya sederhana menjadi glamour. Mengikuti acara-acara eksklusif yang hanya dihadiri orang-orang tertentu. Sang ayah menegurnya, karena ternyata ia melihat bagaimana pekerjaannya betul-betul menyita waktu wanita tersebut. Demikian halnya dengan kekasihnya. Namun sang wanita tetap teguh dengan pendiriannya, dengan alasan “demi karir dan masa depan”. Tidak jarang pada saat sedang berkumpul dengan teman atau kekasihnya, ketika sang bos-nya menelpon, maka dia mau tidak mau harus pergi. Dimanapun dan kapanpun, jika handphonenya berbunyi, maka itu berarti “pergi”. Hingga ia melewatkan ulang tahun kekasihnya yang sudah direncanakan sedemikian rupa. Akhirnya, perubahan tersebut membuat sang wanita bertengkar hebat, dan sang kekasih memutuskan hubungan dengannya. Keesokan harinya, dia tidak fokus dalam bekerja karena kejadian dengan mantan kekasihnya tersebut. Lantas terjadilah sebuah dialog yang sangat menarik bagi saya antara sang wanita dan rekan kerjanya (saya terjemahkan dengan bahasa baku): *A = Rekan kerja, B= Wanita tersebut. A: “Tolong, jangan buat saya kesal…“ B: “Saya mohon maaf. Saya sedang…” A: “Kenapa?“ B: “Saya sedang ada masalah pribadi.” A: (Tetap melakukan aktifitasnya tanpa melihat...

Kamar Orang Lain Selalu Tampak Lebih Bagus

Pernahkah Anda dalam keadaan yang sangat letih, entah itu karena aktivitas Anda yang sangat padat, atau sehabis bekerja keras, atau sehabis berolahraga berat, atau apapun itu. Lantas Anda begitu merindukan kamar Anda. Anda begitu ingin merebahkan tubuh Anda di kasur kamar Anda yang sebetulnya berantakan, namun Anda merasakan sebuah ketenangan dan kenyamanan di dalamnya. Anda begitu menikmati semilir angin yang berhembus dari jendela kamar Anda. Sehingga Anda bisa tertidur nyenyak disana. Pernah? Lantas dalam situasi lain, apakah Anda pernah berkunjung ke rumah teman, saudara, tetangga Anda, dan Anda takjub melihat kamar mereka yang sangat lux? Anda melihat lemarinya yang warnanya begitu sesuai dengan cat temboknya. Anda lihat warna spreinya begitu selaras dengan gorden kamarnya. Meja riasnya yang bergaya modern, AC yang selalu siap mengusir panas, sebuah komputer dengan beberapa gadgetnya tersusun rapi, sebuah meja kerja dengan berbagai alat yang menurut Anda sangat canggih, kamar mandi yang begitu wangi, semuanya membuat Anda takjub. Pernah? Didalam kehidupan, tentunya sebagai manusia kita tidak akan merasa pernah puas. Itu sudah sifat default dari seorang manusia. Tidak pernah puas. Maka dari rasa tidak pernah puas tersebut, lahirlah berbagai macam kejadian, dari yang namanya perselingkuhan hingga korupsi, semua lahir karena “rasa tidak pernah puas”. Saat ini Anda mungkin memiliki sebuah sepeda motor. Namun tidak lama berselang, ketika hujan datang, Anda menginginkan sebuah mobil. Setelah Anda memiliki mobil, tak lama kemudian setelah Anda melihat iklan mobil terbaru, Anda ingin mengganti mobil lama Anda dengan mobil terbaru. Lantas setelah Anda memiliki mobil terbaru, Anda bergegas untuk menghadiri sebuah pertemuan penting, Anda terjebak dalam kemacetan, lantas Anda pun merasa iri dengan para pengendara motor yang bisa menerobos kemacetan....

Perlu 29 Tahun Untuk Mengetahui Arti “Ikhlas”

Saat itu menjelang Idul Adha, pembicaraan orang-orang selalu diisi dengan kata “kurban”, “kambing”, “sapi”, dan kata-kata lain seputar Idul Adha. Hal ini membuat saya dari tahun ke tahun selalu berpikir, “Hikmah apa lagi yang bisa diambil dari sebuah Idul Adha?”. Berangkat dari sejarah Idul Adha itu sendiri, akhirnya saya teringat sebuah obrolan dengan seorang musisi senior Indonesia, Doel Sumbang. Biasanya jika musisi berkumpul, obrolannya tidak jauh dari seputar musik. Namun kali itu berbeda, obrolannya diluar musik. Ada satu kalimat yang menarik yang terus tertanam di kepala saya ketika Kang Doel (sapaan khas Sunda) bertanya kepada saya, “Tau nggak salah satu hal yang terberat di dunia ini?”. Saya berpikir keras karena jawaban dari satu pertanyaan lepas ini sangatlah luas, jawabannya bisa bermacam-macam. Akhirnya saya menjawab, “Wah, bingung juga nih. Apaan ya?”. Kang Doel menjawab pertanyaannya sendiri, “Ikhlas”. “Maksudnya?”, saya belum begitu menangkap arahnya kemana. Lantas Kang Doel menjelaskan dengan kalimat yang singkat namun padat, “Bayangkan saja, untuk bisa ikhlas artinya kita bisa menyukai apa yang tidak kita sukai”. Ya, kalimat itu memiliki makna yang sangat luas dan dalam. Saya tersenyum sendiri apabila sebuah kata “ikhlas” yang sejak Sekolah Dasar kita kenal, ternyata makna yang se-simple itu dipahami salah satu maknanya setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku kuliah. Luar biasa bukan? (Luar biasa b*go-nya, hahaha!). Mengaplikasikan “ikhlas” dalam keseharian kita tidak semudah mengucapkannya. Itu juga sebabnya “ikhlas” ini dikatakan salah satu hal terberat yang manusia lakukan. Tidak semua orang bisa ikhlas dalam arti yang sebenarnya. Bayangkanlah hal kecil, tidak perlu yang besar-besar. Misalkan saja kita memesan makanan, dan makanan yang kita pesan begitu lama untuk sampai ke meja kita. Setelah sampai meja dan kita...