Apakah Musisi Harus Menguasai Mixing/Mastering?

Pesatnya teknologi dalam dunia Recording saat ini, membuat proses perekaman musik saat ini bisa dilakukan hanya di sebuah kamar. Hal ini jelas merupakan kemudahan bagi para musisi untuk menuangkan ide-idenya tanpa batas, menyimpannya, lantas memperdengarkannya kepada orang lain. Mengasikkan bukan? Namun tanpa disadari, hal ini melahirkan sebuah fenomena baru, yaitu bergesernya posisi seorang musisi menjadi sound engineer. Ini menarik bagi saya, sehingga saya memutuskan untuk menulisnya disini. Dan ini adalah opini saya pribadi, tidak mewakili band, kelompok, ataupun komunitas tertentu. Begitu sering saya mendengar orang (musisi) bertanya langsung kepada saya, ataupun mereka sedang berbincang-bincang dengan teman-temannya, dan kurang lebih pertanyaannya seperti ini: Ajarin saya mixing dong? Plugin untuk reverb yang bagus apa? Mendingan pake software anu, atau anu? Mastering suka pakai apa? Dan lain sebagainya. Saya sangat senang melihat hal ini, karena antusias para musisi ke dalam dunia Audio Recording begitu besar. Namun ketika hampir kebanyakan musisi memperbincangkan hal tersebut dan mulai menggeser prioritasnya (tidak lagi pada porsi musisi, melainkan sudah kepada porsi sound engineer), menurut saya ada poin-poin yang harus diingatkan. Catat: ini sama sekali bukan melarang melainkan hanya opini pribadi (dan ini berdasarkan pertimbangan tertentu). Seorang musisi tentunya job description-nya adalah bermain musik (entah itu berlatih, tampil, ataupun rekaman). Dan seorang sound engineer job description-nya adalah pada mengurus hal-hal yang berkaitan dengan audio (record, editing, mixing, mastering, dll). Ini adalah dua profesi yang berbeda dalam satu dunia. Dari fenomena baru seperti yang saya ceritakan diatas, pertanyaannya adalah, “Apakah musisi harus bisa mixing dan mastering?”. Maka jawaban saya: TIDAK. Mixing dan mastering adalah tugas seorang sound engineer, bukan tugas musisi. Tapi banyak kok musisi yang dia melakukan mixing...

Pilih Otodidak Atau Sekolah Musik?

Ada anggapan-anggapan pada komunitas musisi khususnya di Indonesia yang menggelitik saya untuk mengangkatnya sebagai tulisan saya kali ini. “Musisi yang belajar secara otodidak bermain lebih baik dibandingkan dengan musisi yang belajar di sekolah musik. Musisi yang belajar secara otodidak bermain dengan hatinya, sementara musisi yang belajar di sekolah musik bermain seperti robot.” Atau anggapan seperti ini: “Musisi yang belajar di sekolah musik bermain lebih baik dibandingkan dengan musisi yang belajar otodidak. Musisi yang belajar di sekolah musik bermain dengan benar, sementara musisi yang belajar secara otodidak bermain asal-asalan.” Anggapan diatas pasti seringkali Anda dengar. Saya sendiri hampir sudah bosan mendengarnya. Nah, apakah pernah terlintas dalam hati Anda, “Sebetulnya mana yang betul?”. Mudah-mudahan tulisan ini sedikitnya bisa memberikan wacana bagi Anda (dan ini adalah pendapat saya). Sebelum berbicara panjang lebar, saya harus katakan dulu bahwa dua anggapan diatas tidak mutlak benar. Jadi Anda abaikan dulu anggapan diatas. Sebetulnya tidak ada saat ini musisi yang 100% otodidak. Artinya, orang yang menyebut dirinya belajar secara otodidak, pasti ada yang mengajari meskipun hanya dasar-dasarnya. Contohnya, apabila orang tersebut belajar gitar, pasti ada yang memberi tahunya yang mana senar nomor satu, senar tersebut berbunyi not E, dan lain sebagainya. Jika tidak demikian, orang tersebut mungkin saja belajar dari buku atau video tutorial. Nah, jadi sebetulnya ada yang mengajari alias tidak 100% belajar sendiri. Bagi saya, dalam hal ini lebih tepat diberi judul: “Belajar musik secara formal atau informal” atau “Belajar Teori Musik atau Belajar Musik Tanpa Tahu Teori”. Namun jika saya tulis dengan judul tersebut, mungkin pembaca tidak akan menduga isi tulisan ini. Jadi, biarlah judulnya tetap seperti itu, “Otodidak Atau Sekolah Musik” dan...

Mana Yang Betul, Lipsing atau Lipsync? Dan Haruskah?

Di acara-acara musik yang programnya rutin hampir setiap yang sering kita lihat di TV, kita seringkali melihat penyanyi berpura-pura menyanyi (mengeluarkan suara) namun sebetulnya dia hanya menirukan gerak bibir dari bunyi vocal yang diputar. Mungkin saking seringnya, orang-orang awam pun akhirnya kini akrab dengan sebutannya, yaitu “Lip Sync”. Namun begitu banyaknya yang keliru dalam menulis kata Lip Sync, kebanyakan menulisnya “Lip Sing”. “Kenapa harus membahas soal tulisan sih? Perfeksionis sekali!”. Wow, tidak. Salah penulisan tersebut dapat menimbulkan pemahaman yang agak kurang tepat. Karena itu saya menulis tentang ini. Jika mempersoalkan masalah penyebutan, tentu saya tidak perlu repot-repot menulis ini, karena dua istilah tersebut akan terdengar hampir sama bunyi di telinga orang Indonesia. Hehe… Kita pecah dulu artinya: Lips = Bibir Sing = Bernyanyi Sync = (kependekan dari Synchronization) Sinkronisasi Jadi jika penulisannya lipsing maka orang akan mengartikan menurut pengertian sendiri dengan referensi bahasa Inggrisnya, yaitu “Nyanyian Bibir”. Jadi menirukan ataupun bernyanyi betulan, maka bisa saja itu artinya ya memang lipsing. Penulisan yang tepat adalah Lip Sync, yaitu bibir menirukan dengan secara tepat dan sesuai (sinkron) dengan bunyi/vocal yang ditirunya. Nah, jadi siapapun yang menirukan gerak bibir seolah-olah dia yang berkata/bernyanyi padahal suara aslinya adalah hasil rekaman yang diputar, maka dia sedang melakukan Lip Sync. Contoh: Aktor film India yang sedang bernyanyi di film dan dalam satu lagu bisa berganti pakaian hingga beberapa kali sementara lagunya tidak terputus sama sekali. Hehe! Pemain Kabaret yang sedang bersandiwara diatas pentas berakting seolah-olah sedang berbicara dengan suara raksasa. (Jaman saya masih sekolah, setiap acara Perpisahan selalu ada pentas Kabaret). Penyanyi diatas panggung yang berpura-pura sedang betul-betul bernyanyi dan suara vocal tetap keluar meskipun...

Nada Dasar Terlalu Tinggi, Tolong Turunkan 2 Oktaf

Artikel ini ditujukan kepada mereka yang awam tentang musik, tapi kadang-kadang suka menjadi “pelaku” seni musik (biasanya bernyanyi) entah di pesta pernikahan, karaoke, ataupun acara sejenis itu dimana mereka bernyanyi hanya untuk hiburan dirinya saja. Disini saya tentunya ingin meluruskan saja, karena ternyata orang (yang bukan musisi) sering keliru dalam menggunakan istilah musik (meskipun maksudnya saya yakin betul, hanya istilahnya saja yang keliru). Kenapa harus diluruskan? Hmmm… Saya akan balik bertanya, “Apakah yang keliru harus dibiarkan?”. Hehe… Saya sendiri menulis ini karena bukan sekali dua kali sering mendengar ketika seseorang bernyanyi dan entah chord lagu itu terlalu tinggi atau terlalu rendah, mereka suka berkata “Turunin (atau naikin) dong 2 oktaf?”. Jadi ternyata ada kekeliruan dalam mengartikan oktaf itu sendiri. Oktaf (Octave) adalah termasuk kedalam sebuah interval nada. “Lha? Interval nada itu apa? Makin ribet aja nih!”. Tenang saudara-saudara, artikel ini tujuannya memberikan pemahaman. Pasti akan ditulis “semudah” mungkin. Interval nada itu adalah jarak antara satu notasi dengan notasi lainnya. Saya akan menjelaskan dengan notasi yang sederhana. Contoh-contoh notasi adalah: C, D, E, F, G, A, B. Jika Anda memiliki piano, organ, ataupun keyboard, Anda liat ada tuts (papan tekan) berwarna putih dan hitam. Nah, C, D, E, F, G, A, B tersebut dibunyikan oleh tuts yang berwarna putih. “Lho? Tuts putih itu kan banyak banget? Sementara yang disebut cuma 7? C, D, E, F, G, A, B. Ini aja yang saya liat tutsnya nggak tau ada berapa puluh?”. Nah, ini jawabannya. Karena, setelah B, maka urutan nada akan diulang kembali ke C. Masih samar-samar kan? Begini: C, D, E, F, G, A, B, C (lagi), D (lagi), E (lagi),...