Don’t Judge Book By Its Cover

“Don’t judge a book by its cover”. Ini adalah sebuah peribahasa yang sudah tidak asing lagi kita dengar. Atau dalam bahasa Indonesianya “Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya”.

Sejatinya memang begitu. Cara terbaik untuk mengetahui sebuah isi buku tidak lain adalah dengan membaca seluruh isinya. Saya setuju dengan pendapat ini.

Seiring waktu, entah karena jaman yang semakin amburadul atau karena memang manusia semakin ingin bebas, saya semakin sering mendengar peribahasa ini. Akhirnya saya tergelitik untuk memperhatikan lebih dalam kenapa kalimat ini menjadi lebih sering muncul belakangan ini. Dan lewat tulisan ini saya ingin berbagi sedikit apa yang terkait dengan hal ini berdasarkan pemikiran saya.

 

# Tersinggung Dengan Penilaian Orang Lain Terhadap Dirinya

Orang yang melontarkan kalimat ini adalah orang yang mempertahankan diri atas penilaian orang lain terhadap dirinya. Peribahasa ini digunakan sebagai pengganti kalimat, “Saya tidak seperti yang kamu kira”.

# Sedang Berseteru Dengan Orang Lain

Biasanya perseteruan akan menjadi kerucut yang kemudian akan menjadi lahan untuk saling menyerang secara personal. Peribahasa ini adalah tameng dalam sebuah perseteruan.

# Masa Bodoh dan Tidak Mau Peduli

Ada lagi orang yang memang masa bodoh dengan apa yang dikemukakan orang lain. Dia berpedoman pada prinsip, “Yang penting saya sebetulnya anu…”.

# Menutupi Keburukan

Ini yang bagi saya sangat memprihatinkan. Peribahasa ini digunakan memang untuk menutupi keburukannya yang memang dia sendiri sadari. Namun dia menggunakan peribahasa ini untuk memberikan klaim bahwa dia tidaklah seperti itu.

 

Mungkin kira-kira seperti itulah alasan-alasan orang hingga harus mengucapkan peribahasa tersebut. Nah, karena ternyata alasan-alasan yang digunakan selalu berkaitan dengan orang lain, saya ingin mengajak Anda (yang memang keranjingan mengucapkan kalimat tersebut) untuk sedikit membuka mata dan melihat dari sisi lain agar bisa menjadi lebih objektif dalam memandang hal ini.

 

# Anda Subjektif Saat Mengucapkan Peribahasa Tersebut Atas Diri Anda

Ini adalah fakta. Jelas Anda tidak objektif. Karena Anda sama dengan mengeluarkan statement menurut Anda, Anda adalah berbeda dengan sampul Anda.

# Anda Sendiri Memberikan “Judge” Kepada Orang Lain

Anda mengucapkan peribahasa tersebut untuk melindungi diri Anda dari orang yang Anda anggap (baca: judge) memberikan penilaian buruk terhadap Anda. Jadi sebetulnya Anda juga memberikan judge/penilaian terhadap orang lain. Dengan kata lain, Anda sendiri tidak bisa berpikir positif.

# Introspeksi Sebelum Mengatakan Peribahasa Tersebut

Ketika Anda mengucapkan peribahasa tersebut, jelas ada orang lain yang menjudge Anda. Sebelum Anda marah, sebelum Anda berteriak lantang “Don’t judge a book by its cover”, kenapa Anda tidak mencoba merenung dahulu. Orang menilai karena sebab. Bukan tidak mungkin sebabnya memang betul-betul ada pada diri Anda.

# Dunia Ini Memang Tempat Penghakiman Sesama Manusia

Suka atau tidak suka, terima atau tidak terima, faktanya adalah kita adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain untuk hidup. Dan dalam lingkungan sosial, maka penilaian adalah hal yang sangat lumrah dan wajar. Sekalipun Anda hidup di hutan bersama singa, maka singa akan menjudge/menilai/menganggap Anda sebagai makanannya.

# Orang Akan Menilai Seseorang Pada Kesan Pertama ataupun Sekilas Dari Luar

Ini saya tuliskan contoh. Apabila Anda di-interview untuk sebuah posisi pekerjaan sebagai manager Hotel Berbintang 5, apakah Anda akan datang tanpa mandi terlebih dahulu dengan menggunakan sandal jepit, celana pendek, kaos oblong, dan rambut acak-acakan? Lantas Anda berkata kepada mereka, “Hey, don’t judge a book by its cover!”.

Citra diri mencerminkan apa yang sebetulnya ada pada diri kita. Anda sudah minum parfum, tidak mungkin mulut Anda bau bangkai; dan begitu pula sebaliknya. Anda berulang kali masuk kedalam sebuah mobil yang super berantakan, kaos bekas pakai berserakan di bagian belakang, sampah di lantai mobilnya, abu rokok dimana-mana, tumpahan minuman di jok mobilnya, ada bekas permen karet di bagian dalam pintu mobilnya. Lantas bisakah Anda menilai bahwa orang yang menggunakan mobil tersebut adalah orang yang menjaga kebersihan dan kerapihan? Kemudian si pemilik mobil berkata, “Jangan nilai saya dari mobil saya dong! Saya ini orang yang sangat menjaga kebersihan!”.

 

Lantas, harus bagaimana?

Saya pribadi tidak menolak peribahasa tersebut, karena memang apa yang dikatakan peribahasa tersebut memang betul adanya. Namun jangan pernah kita lupa bahwa kita ini hidup di dunia yang memang penuh dengan penilaian dari orang lain, jadi terimalah hal tersebut sebagai aturan main hidup di dunia ini.

Sampul buku jelas harus berkaitan dengan isinya. Anda akan melakukan protes keras ketika Anda membeli sebuah buku seni dan ketika Anda baca ternyata isinya tentang rumus-rumus fisika. Dan Anda tidak akan pernah menemukan buku semacam itu, karena memang sampul mencerminkan isi buku. Ini sebabnya orang lain akan selalu menilai Anda dari luar terlebih dahulu.

Jika kita memang memiliki pribadi yang baik dan juga tampilan luar yang baik, bukankah hal ini lebih indah dibandingkan Anda memiliki tampilan luar yang buruk sementara pribadi Anda sebetulnya baik? Kenapa Anda harus memilih buruk diluar baik di dalam? Kenapa Anda tidak pilih baik dua-duanya?

Semoga tulisan ini bermanfaat. Orang yang beruntung adalah orang yang berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari.

 

Bandung, 15 Juni 2016 – @ivanlahardika