Perlu 29 Tahun Untuk Mengetahui Arti “Ikhlas”

Saat itu menjelang Idul Adha, pembicaraan orang-orang selalu diisi dengan kata “kurban”, “kambing”, “sapi”, dan kata-kata lain seputar Idul Adha. Hal ini membuat saya dari tahun ke tahun selalu berpikir, “Hikmah apa lagi yang bisa diambil dari sebuah Idul Adha?”.

Berangkat dari sejarah Idul Adha itu sendiri, akhirnya saya teringat sebuah obrolan dengan seorang musisi senior Indonesia, Doel Sumbang. Biasanya jika musisi berkumpul, obrolannya tidak jauh dari seputar musik. Namun kali itu berbeda, obrolannya diluar musik.

Ada satu kalimat yang menarik yang terus tertanam di kepala saya ketika Kang Doel (sapaan khas Sunda) bertanya kepada saya, “Tau nggak salah satu hal yang terberat di dunia ini?”. Saya berpikir keras karena jawaban dari satu pertanyaan lepas ini sangatlah luas, jawabannya bisa bermacam-macam. Akhirnya saya menjawab, “Wah, bingung juga nih. Apaan ya?”. Kang Doel menjawab pertanyaannya sendiri, “Ikhlas”. “Maksudnya?”, saya belum begitu menangkap arahnya kemana. Lantas Kang Doel menjelaskan dengan kalimat yang singkat namun padat,

“Bayangkan saja, untuk bisa ikhlas artinya kita bisa menyukai apa yang tidak kita sukai”.

Ya, kalimat itu memiliki makna yang sangat luas dan dalam. Saya tersenyum sendiri apabila sebuah kata “ikhlas” yang sejak Sekolah Dasar kita kenal, ternyata makna yang se-simple itu dipahami salah satu maknanya setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku kuliah. Luar biasa bukan? (Luar biasa b*go-nya, hahaha!).

Mengaplikasikan “ikhlas” dalam keseharian kita tidak semudah mengucapkannya. Itu juga sebabnya “ikhlas” ini dikatakan salah satu hal terberat yang manusia lakukan. Tidak semua orang bisa ikhlas dalam arti yang sebenarnya.

Bayangkanlah hal kecil, tidak perlu yang besar-besar. Misalkan saja kita memesan makanan, dan makanan yang kita pesan begitu lama untuk sampai ke meja kita. Setelah sampai meja dan kita lihat, ternyata makanan itu memakai udang misalnya (padahal kita sudah berpesan agar tidak menggunakan udang). Begitu kita coba, rasanya hambar. Ditambah pelayannya bermuka masam dan tidak bersahabat ketika melayani kita. Apa yang akan kita lakukan? Menggebrak meja lantas melakukan komplain keras dengan sedikit berteriak, atau kita komplain dengan sedikit berdiplomatis dengan memanggil manager restoran tersebut, atau kita merasa sabar sehingga tidak komplain, cukup ngedumel saja? (Pilihan yang sulit ya? Haha!)

Ketiga opsi pada ujung contoh cerita tersebut sama sekali belum menunjukkan adanya kata “ikhlas” pada diri kita karena kita belum menyukai apa yang terjadi pada saat kita makan tersebut (catatan: bukan makanannya). Wow, berat sekali ya? Itu baru hal kecil dan kita sudah berkata berat sekali, bayangkan hal besar seperti keikhlasan dan keridhoan Ibrahim seorang ayah untuk menyembelih anaknya Ismail atas perintah Allah (dimana tidak ada clue sebelumnya bahwa Ismail akan diganti dengan seekor kambing)? Waduh, membayangkannya saja kita sudah merasa berat.

Adalah sebuah kemampuan super apabila kita sudah bisa betul-betul menerapkan “ikhlas” dengan arti yang sebenarnya dalam kehidupan kita. Kita tidak akan resah karena kehidupan ini. Kita tidak akan mengenal rasa gelisah. Kita tidak akan takut dan khawatir semata-mata karena dunia ini.

Salah satu makna Idul Adha adalah “ikhlas”. Mari kita pahami lebih jauh lagi apa itu “ikhlas”, dan mari kita aplikasikan dalam keseharian kita. Mudah-mudahan Idul Adha selalu membawa kita menjadi manusia yang ikhlas dari waktu ke waktu. Aamiin.

Hatur nuhun Kang Doel atas obrolannya yang sangat bermanfaat ini, semoga lewat tulisan ini menjadi manfaat bagi semua pembacanya.