Pilih Otodidak Atau Sekolah Musik?

Ada anggapan-anggapan pada komunitas musisi khususnya di Indonesia yang menggelitik saya untuk mengangkatnya sebagai tulisan saya kali ini.

“Musisi yang belajar secara otodidak bermain lebih baik dibandingkan dengan musisi yang belajar di sekolah musik. Musisi yang belajar secara otodidak bermain dengan hatinya, sementara musisi yang belajar di sekolah musik bermain seperti robot.”

Atau anggapan seperti ini:

“Musisi yang belajar di sekolah musik bermain lebih baik dibandingkan dengan musisi yang belajar otodidak. Musisi yang belajar di sekolah musik bermain dengan benar, sementara musisi yang belajar secara otodidak bermain asal-asalan.”

Anggapan diatas pasti seringkali Anda dengar. Saya sendiri hampir sudah bosan mendengarnya. Nah, apakah pernah terlintas dalam hati Anda, “Sebetulnya mana yang betul?”. Mudah-mudahan tulisan ini sedikitnya bisa memberikan wacana bagi Anda (dan ini adalah pendapat saya).

Sebelum berbicara panjang lebar, saya harus katakan dulu bahwa dua anggapan diatas tidak mutlak benar. Jadi Anda abaikan dulu anggapan diatas.

Sebetulnya tidak ada saat ini musisi yang 100% otodidak. Artinya, orang yang menyebut dirinya belajar secara otodidak, pasti ada yang mengajari meskipun hanya dasar-dasarnya. Contohnya, apabila orang tersebut belajar gitar, pasti ada yang memberi tahunya yang mana senar nomor satu, senar tersebut berbunyi not E, dan lain sebagainya. Jika tidak demikian, orang tersebut mungkin saja belajar dari buku atau video tutorial. Nah, jadi sebetulnya ada yang mengajari alias tidak 100% belajar sendiri. Bagi saya, dalam hal ini lebih tepat diberi judul: “Belajar musik secara formal atau informal” atau “Belajar Teori Musik atau Belajar Musik Tanpa Tahu Teori”. Namun jika saya tulis dengan judul tersebut, mungkin pembaca tidak akan menduga isi tulisan ini. Jadi, biarlah judulnya tetap seperti itu, “Otodidak Atau Sekolah Musik” dan saya akan tetap menggunakan kata otodidak bagi orang yang saya maksud pada paragraf ini.

OTODIDAK

Ada banyak hal yang melatar belakangi orang belajar musik secara otodidak. Entah itu karena keterbatasan sarana di tempatnya, ataukah karena tidak adanya biaya untuk sekolah musik, atau tidak menutup kemungkinan karena lingkungannya. Orang-orang yang belajar musik secara otodidak biasanya memiliki kemauan dan semangat yang kuat dalam belajar musik. Terbukti dengan cara dia mempelajari musik dengan caranya sendiri. Bayangkan, seseorang yang tinggal di desa terpencil tidak ada sekolah dan tidak ada toko buku, namun ia berusaha untuk bisa baca-tulis, tentu Anda tidak akan meragukan semangat orang tersebut bukan? Nah, seperti itulah kira-kira semangat orang yang mempelajari musik secara otodidak. Orang yang belajar secara otodidak akan mengandalkan hearing dan feeling-nya untuk mempelajari musik. Yang termudah tentunya dengan cara mendengarkan musik, lantas meraba-rabanya, lantas menirunya. Ia akan berlatih berulang-ulang hingga ia paham dengan sendirinya, dan mulai belajar berimprovisasi, dan semua itu menurut pendengarannya. Enak didengar atau tidak.

SEKOLAH MUSIK

Orang yang sekolah musik, dia akan mempelajari musik dengan cara ter-kurikulum. Artinya, dia akan mempelajari musik dari dasar secara teori dan praktek dengan cara yang benar. Dia akan belajar bagaimana membaca dan menulis not, dia akan belajar mengenai pembentukan chord, dia akan belajar mengenai circle-circle chord, dia akan belajar bagaimana mengiringi dan bagaimana bermain solo, dia akan belajar berimprovisasi, dan lain sebagainya.

Bagi saya, tidak ada yang salah dengan dua cara belajar tersebut. Dua-duanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mempelajari musik. Saya sendiri bahkan belajar musik melalui keduanya. Saya mempelajari musik secara otodidak sejak kecil hingga berusia 18 tahun. Pada usia 18 tahun, saya lantas belajar musik di sebuah sekolah musik. Salah satu alasan saya kenapa menulis ini juga karena hal tersebut, saya sudah merasakan mempelajari musik baik secara otodidak maupun di sekolah musik.

Untuk lebih mempermudah pembahasan hal ini, saya akan membahasnya dengan Frequently Asked Question (pertanyaan yang sering dilontarkan):

 

Betulkah musisi yang belajar di sekolah musik lebih baik dibandingkan musisi yang belajar secara otodidak?

Belum tentu. Seseorang yang belajar di sekolah musik namun tidak memiliki kemauan atau keseriusan yang kuat untuk mempelajari dan bermain musik, tetap tidak akan menjadi musisi yang berkualitas.

Apakah berarti musisi yang belajar secara otodidak lebih baik dari musisi yang belajar di sekolah musik?

Belum tentu juga. Orang yang memiliki semangat dan kemauan yang keras dalam mempelajari musik secara otodidak, namun tidak mau mendengar atau mengacu pada teori musik yang benar, dikhawatirkan akan menjadi musisi keras kepala yang bermain musik secara ngawur, dan biasanya akan sulit bekerja sama dengan musisi lainnya.

Apakah benar musisi yang belajar secara otodidak bermain musik lebih menggunakan hati dibandingkan musisi yang belajar di sekolah musik?

Tidak benar. Semua musisi menggunakan hati saat memainkan musik. Adapun anggapan musisi di sekolah musik yang bermain seperti robot, hanyalah pada saat mereka “mempelajari” musik. Sama persis dengan musisi otodidak meraba-raba not dan chord pada saat mereka mempelajari musik. Pada saat “memainkan”, semua tentunya tetap menggunakan hati dan feel.

Silahkan Anda buka YouTube, lantas Anda cari video performance dari para Pianis Klasik dunia. Mereka mepelajari musik di sekolah musik. Silahkan Anda lihat dan Anda dengarkan dengan seksama permainan mereka. Atau jika itu terlalu rumit, Anda lihat dan dengarkan karya-karya Erwin Gutawa. Apakah terdengar seperti robot?

Saya dengar, banyak kok artis-artis musisi yang belajar musiknya secara otodidak?

Ya, benar. Karena berbicara artis, itu berbicara industri musik. Berbicara industri musik, berbicara pasar. Jadi proses edukasi sudah terlewati dan tidak menjadi pertimbangan penting lagi dalam hal tersebut. Anda membuat musik yang ngawur sekalipun, jika pasar suka dan karya Anda laku keras, maka Anda dapat dikatakan berhasil dalam industri musik tidak peduli apa latar belakang edukasi Anda.

Jadi, mending mana? Belajar secara otodidak atau di sekolah musik?

Terserah Anda. Dua-duanya hanyalah merupakan sebuah proses, bukan tujuan akhir.

Idealnya bagaimana belajar musik itu?

Nah, jika berbicara ideal, saran saya adalah Anda harus garisbawahi satu kata: BELAJAR. Sesuaikan dengan kondisi Anda. Jika Anda berada di daerah yang sarana dan prasarana-nya kurang, atau Anda terbentur biaya untuk sekolah musik, maka belajarlah saat itu juga meskipun secara otodidak. Bertanyalah kepada rekan Anda yang lebih paham mengenai musik. Jangan tinggikan ego Anda, tapi selalu rendahkan ego Anda dan tidak malu untuk bertanya jika Anda memang tidak tahu apa-apa. Setelah Anda punya kesempatan untuk sekolah musik, segeralah ambil kesempatan tersebut, dan teruskan belajar Anda di sekolah musik tersebut.

Jika Anda saat ini berada di kota yang lengkap sarana dan prasana-nya, lantas Anda tidak mempunyai kendala dalam hal biaya, maka silahkan Anda belajar musik di sekolah musik. Ingat, lebih baik Anda kesulitan mempelajari sesuatu dengan benar dari awal, daripada Anda kesulitan untuk merubah sesuatu yang salah yang sudah terbentuk menjadi kebiasaan Anda sejak lama.

Teruslah belajar, jangan pernah berhenti. Jangan terganjal oleh status Anda yang pernah meraih “Gitaris/Drummer/Bassist/Kibordis Terbaik se-RT”, atau terganjal status Anda yang sudah menjadi artis, lantas Anda merasa gengsi untuk bertanya atau belajar. Anda rugi besar jika seperti itu, karena gengsi tidak akan secuilpun menambah kualitas permainan musik Anda.

Tidak pernah ada kata berhenti belajar selama hidup di dunia ini. Semoga bermanfaat.